Stomatitis

Menurut drg. J Bambang S dari RS Dr Mohammad Hosein Palembang, stomatitis atau sariawan adalah luka yang muncul pada jaringan lunak di mulut. Luka tersebut biasanya hanya satu, namun terkadang beberapa bahkan ada yang berada di seluruh permukaan mukosa mulut.

“Umumnya stomatitis dapat sembuh dengan sendirinya. Sariawan ini dapat terjadi karena tergigit, terkena duri ikan dan terkena sikat gigi, serta akibat kekurangan vitamin C,” ujar dokter yang akrab disapa Bambang ini.

Namun, sambungnya, dengan semakin banyaknya penyakit seperti stomatitis itu harus diwaspadai. Adapun penyakit yang tanda-tandanya seperti sariawan adalah herpes. Herpes dapat muncul di mana saja termasuk di dalam mulut.

Penyebab Stomatitis

Stomatitis merupakan penyakit yang diakibatkan dengan adanya jamur pada mulut dan saluran kerongkongan. Jamur yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Candida albicans bukanlah jamur yang aneh dan berbahaya. Hampir di setiap jengkal tubuh kita mengandung jamur ini termasuk di daerah mukosa mulut dan alat kelamin, namun adanya jamur ini tidak menimbulkan keluhan yang berarti.

Dulu jamur ini lebih dikenal dengan sebutan Jamur Monilia. Jamur ini sering menimbulkan keluhan dikarenakan daya tahan tubuh manusia (imuno) yang menurun sehingga pertahanan terhadap jamur dan bakteri lainnya berkurang. Dengan demikian penyakit yang ringan pada mulut ini bisa mengindikasikan penyakit yang lebih berat. Meski penyakit ini tidak begitu berat namun tetap saja keberadaan penyakit ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Faktor Risiko Stomatitis

Ada beberapa faktor-faktor risiko penyebab yang dapat mengakibatkan stomatitis di antaranya:

  • Keadaan gigi pasien, karena kebersihan gigi yang buruk sering dapat menjadi penyebab timbulnya sariawan yang berulang.
  • Luka tergigit, bisa terjadi karena bekas dari tergigit yang bisa menimbulkan luka sehingga dapat mengakibatkan stomatitis aphtosa.
  • Mengonsumsi air dingin atau air panas.
  • Alergi, bisa terjadi karena kenaikan kadar IgE dan keterkaitan antara beberapa jenis makanan dan timbulnya luka.
  • Faktor herediter (keturunan) bisa terjadi, misalnya kesamaan yang tinggi pada anak kembar, dan pada anak-anak yang kedua orangtuanya menderita stomatitis aphtosa.
  • Kelainan pencernaan.
  • Faktor psikologis (stres).
  • Gangguan hormonal (seperti sebelum atau sesudah menstruasi
  • Pada penderita yang sering merokok.
  • Pada penggunaan obat kumur yang mengandung bahan-bahan pengering (misal; alkohol, lemon atau gliserin) harus dihindari.
  • Kekurangan vitamin C.
  • Kekurangan vitamin B dan zat besi.

Stomatitis ini sering menyerang siapa saja. Tidak mengenal umur maupun jenis kelamin. Biasanya daerah yang paling sering timbul adalah sariawan di pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di langit–langit.

Gejala Stomatitis

Gejalanya berupa rasa panas atau terbakar yang terjadi satu atau dua hari yang kemudian bisa menimbulkan luka di rongga mulut. Bercak luka yang ditimbulkan akibat dari sariawan ini agak kaku dan sangat peka terhadap gerakan lidah atau mulut sehingga rasa sakit atau rasa panas yang dirasakan ini dapat membuat kita susah makan, susah minum, ataupun susah berbicara.

Penderita stomatitis umumnya juga banyak mengeluarkan air liur. Biasanya sariawan ini akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu empat sampai 20 hari. Bila penyakit ini belum sembuh sampai waktu 20 hari maka penderita harus diperiksa lebih lanjut untuk menentukan apakah ada sel kankernya atau tidak.

Macam-Macam Stomatitis

a. Mycotic stomatitis

Mycotic stomatitis adalah stomatitis yang disebabkan oleh adanya infeksi mulut atau rongga mulut oleh jamur Candida. Mycotic stomatitis disebabkan oleh pertumbuhan Candida albicans, yang merupakan penyebab stomatitis yang luar biasa pada anjing dan kucing. Hal ini ditandai dengan adanya bercak putih kekuningan pada lidah atau membran mukosa.

Mycotic stomatitis biasanya dihubungkan dengan penyakit mulut yang lain, penggunaan terapi antibiotik yang lama, atau pemberian immunosuppression. Pada mycotic stomatitis sering kali pada jaringan terjadi kemerahan dan timbul luka di bagian rongga mulut.

b. Gingivostomatitis

Gingivostomatitis merupakan infeksi virus pada gusi dan bagian mulut lainnya, yang menimbulkan nyeri. Gusi tampak berwarna merah terang dan terdapat banyak luka terbuka yang berwarna putih atau kuning di dalam mulut.

c. Denture stomatitis atau Chronic stomatitis

Denture stomatitis adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan perubahan-perubahan patologik pada mukosa penyangga gigi tiruan di dalam rongga mulut. Perubahan-perubahan tersebut ditandai dengan adanya eritema di bawah gigi tiruan lengkap atau sebagian baik di rahang atas maupun di rahang bawah.

Budtz-Jorgensenl mengemukakan bahwa denture stomatitis dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor yaitu: trauma, infeksi, pemakaian gigi tiruan yang terus-menerus, kebersihan oral buruk, alergi, dan gangguan faktor sistemik. Oleh karena itu, gambaran klinis maupun gambaran histopatologis juga bervariasi, sehingga perawatannyapun perlu dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kemungkinan penyebabnya.

d. Aphthous stomatitis

Apthous stomatitis (sariawan) adalah stomatitis yang paling umum sering terjadi. Sariawan ini adalah jenis luka yang sangat nyeri pada jaringan lunak mulut, bibir, lidah, pipi bagian dalam, pharing, dan langit-langit mulut halus. Tipe sariawan ini tidak menular.

Stomatitis aphtosa ini mempunyai 2 jenis tipe penyakit, di antaranya:

  • Sariawan akut bisa disebabkan oleh trauma sikat gigi, tergigit, dan sebagainya. Pada sariawan akut ini bila dibiarkan saja akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.
  • Sariawan kronis akan sulit sembuh jika dibiarkan tanpa diberi tindakan apa-apa. Sariawan jenis ini disebabkan oleh xerostomia (mulut kering). Pada keadaan mulut kering, kuantitas saliva atau air ludah berkurang. Akibatnya kualitasnya pun juga akan berkurang. Penyebab dari xerostomia ini bisa disebabkan gangguan psikologis (stres), perubahan hormonal, gangguan pencernaan, sensitif terhadap makanan tertantu dan terlalu banyak mengonsumsi antihistamin atau sedatif.

Adapun secara klinis stomatitis aphtosa ini dapat dibagi menjadi 3 subtipe, diantaranya:

1. Stomatitis aphtosa minor (MiRAS)

Sebagian besar pasien menderita stomatitis aphtosa bentuk minor ini, yang ditandai oleh luka (ulser) bulat atau oval, dangkal, dengan diameter kurang dari 5 mm, dan dikelilingi oleh pinggiran yang eritematus. Ulserasi (luka terbuka) pada MiRAS cenderung mengenai daerah-daerah non-keratin, seperti mukosa labial, mukosa bukal dan dasar mulut. Ulserasi bisa tunggal atau merupakan kelompok yang terdiri atas empat atau lima dan akan sembuh dalam jangka waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan bekas luka.

2. Stomatitis aphtosa major (MaRAS)

Hanya sebagian kecil dari pasien yang terjangkit stomatitis aphtosa jenis ini. Namun jenis stomatitis aphtosa pada jenis ini lebih hebat daripada stomatitis jenis minor (MiRAS). Secara klasik, ulser ini berdiameter kira-kira 1-3 cm, dan berlangsung selama 4 minggu atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa mulut, termasuk daerah-daerah berkeratin. Stomatitis aphtosa major ini meninggalkan bekas, bekas pernah adanya luka seringkali dapat dilihat penderita MaRAS; jaringan parut terjadi karena keseriusan dan lamanya lesi.

3. Ulserasi herpetiformis (HU)

Istilah ’herpetiformis’ digunakan karena bentuk klinis dari HU (yang dapat terdiri atas 100 ulser kecil-kecil pada satu waktu) mirip dengan gingivostomatitis herpetik primer, tetapi virus-virus herpes ini tidak mempunyai peran etiologi pada HU atau dalam setiap bentuk ulserasi aphtosa.

Tinggalkan komentar